WELCOME

Assalamu'alaikum...

Ahlan Wasahlan.....

Toek Para Blogger yg baek ati...
nyoook singgah di blog ayeee....
gag pake' uang muka kuuuug...heheheheh..

n' atu age neh...
mohon kritik n' saran yg membangun yea wad Blog we kedepannyeee...^_^

Minggu, 23 Oktober 2011

10 Tips Menemukan dan Memelihara Hubungan Asmara

1. Jangan jatuh cinta dengan seseorang yang sangat berpotensi. Terlalu banyak pria dan wanita yang memilih teman atau tinggal dalam hubungan dengan harapan bahwa orang lain akan berubah.
Jujurlah dan jadilah diri sendiri dan bertanya: "Dapatkah saya mencintai orang ini dengan cara yang sebenarnya dimana mereka sekarang tanpa harapan untuk berubah?" jika tidak, carilah yang lain.
 
2. Jangan memusingkan nafsu birahi. Dalam perasaan yang terburu-buru, orang melakukan hubungan seksual akan menciptakan suatu keintiman yang salah, yang akan menuju kekecewaan.
Sisihkan waktu untuk menciptakan hubungan emosional yang asli dan membiarkan hubungan seksual yang penuh gairah tumbuh.
 
3. Jangan mengabaikan keputusasaan untuk memiliki suatu hubungan. Misalnya, jika dia membuat suatu pernyataan seperti "Saya tidak melaksanakan komitmen dengan benar," Percayailah dia.
Tanya pada diri sendiri, "Apakah orang ini bersedia secara emosional dan situsioanal?" (Orang cenderung untuk menghabiskan waktu untuk hobinya kemudian baru pasangannya).
 
4. Jangan mengasumsikan teman Anda secara "fisik" mengetahui apa yang Anda inginkan dan butuhkan.
Bertanggung jawab untuk mengungkapkan perasaan Anda dan saling membutuhkan satu sama lain. Ini akan menghindari konflik dan hubungan emosional yang dalam diantara Anda.
 
5. Terima pasangan Anda apa adanya. Ketika pasangan memasuki tahap bulan madu, mereka sering merasa puas satu sama lain.
Teruskan untuk melakukan hal romantis satu sama lain dalam setiap hubungan, tidak hanya di tahap awal. Misalnya, buatlah "date night " sekali seminggu.
 
6. Bersikaplah empatik terhadap pasangan Anda. Sisihkan beberapa saat rencana Anda dan perhatikan pasangan Anda untuk memahami pemikirannya. Memahami dan mensyahkan perasaan pasangan Anda tidak berarti Anda harus setuju dengan mereka. Jika tidak hal ini berarti Anda harus menyerahkan pada kebutuhan Anda sendiri. Sering kali, perasaan memahami akan berarti lebih untuk pasangan Anda dibanding menjadi benar atau memenangkan pertarungan.
 
7. Fokuskan pada apa yang Anda sukai dari pasangan Anda dan apa yang telah mereka lakukan dengan benar- alih-alih tentang kesalahan mereka.
 
8. Kekasih Anda kembali. Orang yang mencintai Anda kembali. Anda tidak akan terlibat dengan seseorang yang akan mencintai Anda.
 
9. Anda tidak merasa Anda berjalan diatas kulit telur. Jika Anda memiliki perasaan yang kuat dalam perut Anda, itu bukan cinta, melainkan Anda mencoba untuk mendapatkan persetujuan.
 
10. Hubungan yang sehat akan meningkatkan penghargaan diri.
 
Untuk mendapatkan hubungan yang harmonis, setiap pasangan perlu untuk mengekspos diri mereka sendiri. Hubungan yang sehat terjadi ketika kedua pasangan merasakan aman untuk menyatakan diri mereka sebenarnya terhadap masing-masing.
 
 

Rabu, 19 Oktober 2011

Aku Terpaksa Menikahinya.....

Kisah inspiratif untuk para istri dan suami..

Semoga peristiwa di bawah ini membuat kita belajar bersyukur untuk apa yang kita miliki :

Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.
Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.

“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”

“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi,  ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat  pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya  dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

Istriku Liliana tersayang,

Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.

Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.

Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.

Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!


Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”

Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”

Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”
Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.

Sumber : Belajar Islam


Minggu, 16 Oktober 2011

T_T (LyBash)

disini ku mencintaimu
pahamilah diriku
tolong cintai aku dengan kesederhanaamu....

Inilah cintaku,lebih dari apa yang kau tau
meski slalu kau anggap diriku salah
namun takkan pernah hilang cintaku padamu....
#
Inilah cintaku,lebih dari apa yang kau tau
meski slalu kau anggap diriku salah...
*
slalu bersedih
slalu menangis
apakah smua salahku
yang benar hanya dirimu

Jumat, 22 April 2011

Pengertian STRES

Stress adalah suatu kondisi dimana keadaan tubuh terganggu karena tekanan psikologis. Biasanya stress dikaitkan bukan karena penyakit fisik tetapi lebih mengenai kejiwaan. Akan tetapi karena pengaruh stresss tersebut maka penyakit fisik bisa muncul akibat lemahnya dan rendahnya daya tahan tubuh pada saat tersebut.
Stress berasal dari kata Perancis retrecir, berarti kesempitan, suatu penyempitan, atau faktor pembatasan kekuatan. Jenis stress yang paling berbahaya – stress negatuf – umumnya terjadi ketika kamu memandang perubahan dan tekanan sebagai suatu beban serta menaggapi peningkatan tuntutan sebagai ancaman. Kamu merasakan frustasi atau ketidakberdayaan, dan cenderung untuk menganggap diri sebagai korban dari keadaan sekitar.
Pengulangan atau berlarutnya stress negatif dapat menyebabkan berbagai reaksi kejiwaan yang kompleks, yang barangkali melibatkan lebih dari 1.500 perubahan kimia yang berbeda dalam otak dan tubuh. Hal itu bahkan dapat membawa kita pada kelelahan energi mental dan fisik, serta melemahkan sistem kekebalan tubuh.
Ketika kamu dihadapkan pada kejadian yang menyebabkan stress, kalau kamu bereaksi secara negatif pada stress, pembawa pesan kimia otak, yang dibawah otak kamu akan memberi perintah pada kelenjar adrenal untuk megghasilkan kortisol. Impuls saraf juga merangsang adrenalin, yang bergelombang memasuki aliran darah dan menyiagakan tubuh dengan merangsang jutaan serabut saraf tertentu. Baik adrenalin dan kortisol membangkitkan tekanan darah selama stress. Adrenalin meningkatkan kekentalan darah (elemen penggumpalan darah), sementara kortisol meningkatkan jumlahnya, sehingg dapat mengakibatkan penggumpalan yang melekat pada dinding pembuluh nadi, ,membuatnya menjadi sempit. Kelebihan adrenalin juga dapat mengerutkan dan memutuskan serabut otot jantung, membuat jantung mudah diserang, dan oleh karenanya akan melemahkan jantung. Kelebihan kortisol juga dapat membangkitkan kolesterol, yang turut menyumbang pada pengerasan pembuluh nadi.
Dalam sustu studi yang dilakukan di Harvard, ditemukan bahwa orang yang kurang baik dalam menangani stress, berpotensi ssakit 4 kali lebih besar dibandingkan mereka yang mampu menanggulangi stress secara terampil. Kesalahan pengelolaan “stress negatif” mempengaruhi sistem kekebalan tubuh, fungsi jantung, tingkatan hormon, sistem saraf, ingatan dan pemikiran, koordinasi fisik, serta tingkat metabolisme. Ini membangkitkan kolesterol darah, tekanan darah, dan tingkat keasaman urine; juga meningkatkan resiko masuknya penyakit, termasuk penyakit jantung, kanker, menurunnya kekebalan tubuh, dan bahkan demam biasa. Selain itu, stress negatif juga mempengaruhi sel-sel otak dan daerah-daerah sekitarnya sehingga mengakibatkan penuaan dini pada otak orang dewasa. Pemberondongan hormon stress yang bekelanjutan pada otak menghancurkan penerima hormon serebral dan melemahkan daerah otak yang megendalikan emosi. Stress yang menghasilkan hormon adrenalin – glukokortisoid – juga menghalangi masuknya glukosa ke dalam sel-sel otak, karena itu membunuh mereka.
Kamu yang sering mengalami stress patut waspada terhadap kamampuan otak yang menurun. Pasalnya stress berlebihan akan membuat sel-sel baru di otak mati. Demikian menurut hasil riset yang dipublikasikan dalam Journal of Neuroscience di Inggris. Dalam penelitian terhadap tikus percobaan, para ilmuwan dari Universitas Franklin , Inggris, menemukan adanya penurunan sel pada hippocamus, tepatnya di area otak yang berfungsi untuk proses mengingat, belajar dan emosi. Hippocamus adalah bagian dari otak yang terdiri dari 2 area yang akan terus menumbuhkan sel-sel syaraf sepanjang hidup, baik pada manusia atau tikus.
Menurut tim peneliti, penurunan jumlah sel pada hippocamus ini terjadi karena depresi. Namun matinya sel-sel ini tidak langsung terjadi pada saat seseorang mengalami stress melainkan satu hari kemudian. Dalam risetnya, tim peneliti meletakkan tikus kecil bersama dengan 2 tikus dewasa dalam kandang selama 20 menit. Tikus dewasa ini bersifat menguasai dan mengganggu si tikus kecil. Akibatnya hormon sress dalam tubuh tikus ini meningkat 7 kali lipat dibandingkan dengan tikus yang hanya berada di kandang sendirian. Dan kira-kira apa yang menjadi latar belakang stress yang dialami?
Dari hasil analisa mikroskop terhadap jaringan otak diketahui tingginya hormon stress menyebabkan kemampuan perkembangan sel baru di hippocamus berkurang. Hasil ini sekaligus menyangkal teori sebelumnya yang mengatakan hormon stress akan mengembangkan pertumbuhan sel baru.
Menanggapi hasil riset ini, Profesor David Kendall dari Universitas Nottingham mengatakan memang stress yang berkepanjangan akan menyebabkan pertumbuhan sel saraf di hippocamus menjadi lambat. Tapi menurutnya, stress ringan justru bermanfaat positif untuk tubuh.
Apa Latar Belakang Stresss yang Dialami?
Ketika kamu sedang tegang dan lelah, terdapat suatu kecenderungan alami bahwa permasalaha-permasalahan dalam pekerjaan serta kehidupan kamu tampak semakin besar. Ketidakpuasan tampak seperti malapetaka, sengatan anjuran bermanfaat seperti kritikan, percekcokan sehari-hari, tampak seperti suatu kutukan paribadi dan ada peluang besar bahwa kamu akan marah akibat masalah-masalah sepele.
Kejadian dan masalah yang sama ini tampaknya akan lebih dapat dikelola ketika kamu sedang merasa santai, kuat, serta penuh semangat. Sebenarnya, banyak dari kita membuang sejumlah besar energi dengan bereaksi secara kuat, bahkan kepada penundaan yang paling kecil. Kita seringkali disulitkan dengan pikiran-pikiran seperti “Tak pernah ada cukup waktu” dan “Apa lagi yang dapat salah hari ini?” Kalau kamu memperhatikan perasaan-perasaan kurang waktu, membuat kamu frustasi hari demi hari, itu barangkali satu tanda peringatan awal dari beban stress dan bahwa ketegangan kamu telah memasuki suatu tingkattan kuat dan secara potensial berbahaya. Sekaranglah waktu untuk melakukan sesuatu yang benar – waktu untuk berpikir tentang membuat suatu perubahan.
Ketika kamu sedang tergesa-gesa, pikiranmu sibuk membuat daftar dan memaksamu untuk membuat masing-masing hal terlaksana, maka ingatkanlah dirimu bahwa beberapa diantaranya mungkin dapat menunggu. Bergeraklah maju pada hal-hal yang paling perlu. Jika kamu menggertak orang lain semasa terburu-buru dengan persoalan kamu, berhentilah sejenak dan tanyakan pada dirimu sendiri , “”Apakah pekerjaan ini benar-benar penting?”
Banyak hal yang bisa memicu stress muncul seperti rasa khawatir, perasaan kesal, kecapekan, frustasi, perasaan tertekan, kesedihan, pekerjaan yang berlebihan, Pre Menstrual Syndrome (PMS), terlalu fokus pada suatu hal, perasaan bingung, berduka cita, dan juga rasa takut. Ini dapat diatasai dengan mengadakan konsultasi kepada psikiater atau beristirahat total.
Sumber stress sangat bersifat pribadi dan beragam pada masing-masing individu: apa yang mempengaruhi kamu mungkin sama sekali tidak mengganggu pasangan kamu. Bagaimanapun juga, bagi sebagian besar dari kita,kemampuan untuk tetap tenang dan sehat bergantung pada “perkara kecil”. Bagaimana kita menanggapi gangguan kehidupan sehari-hari – seperti kemarahan, penolakan, kemacetan lalu-lintas, dan lain-lain – sering kali menunjukan stress psikologia serta fisik kita.
Reaksi berlebihanmu merupakan faktor tunggal yang menyebabkan stress.
Sangat sedikit orang yang menyadari bahwa relaksasi sesungguhnya bermakna sustu keadaan – kesiapsiagaan yang penuh ketenangan, ketika kamu bisa memberikan jarak bagi dirimu sendiri dan ketegangan dan gangguan kehidupan, serta mengusahakan sustu pikiran yang lebih jernih dengan kehendakmu sendiri.
Gejala Anda Terjangkit Stress
Berlawanan dengan pemikiran populer, stress itu bukanlah kemalangan atau penyakit. Stress adalah suatu kekuatan-kekuatan - suatu tekanan yang sangat kuat yang dapat dikenali dan disalurkan dengan berguna; jika dilupakan, stress akan menggerogoti usaha-usahamu dan menganggu kesehatan. Oleh karena itu sangatlah penting mempertajam keterampilanmu dalam mengenali tanda-tanda tubuh/ pikiran tertentu yang menyiagakan kamu dan memampukan kamu mengetahui bahwa itulah saatnya mundur. Tanda-tanda kesusahan ini barangkali meliputi yang berikut ini :
1. Urgensi waktu
Berusaha melakukan lebih banyak dalam waktu singkat; terus- menerus memandang sekilas jam tanganmu; menjadi marah ketika orang lain tampaknya terlalu lambat.
2. Ketegangan
Perhatikan otot-ototmu yang mengencang atau postur badanmu menjadi loyo, atau merasakan kebutuhan untuk merenggangkan tubuh, menggerakan, atau mengubah kebiasaan sehari-harimu.
3. Kepenatan
Perasaan penat meningkat dalam pikiran, tubuh dan emosi.
4. Kesalahan
Perhatikan suatu penurunan dalam kinerjamu, seperti membuat kesalahan sembrono, atau perhatikan berkurangnya koordinasi dalam percakapan, tulisan atau gerakanmu.
5. Gangguan
Mendapati pikiranmu berkelana, suliat memusatkan perhatian, sering lupa atau menunda.
6. Kesedihan
Sustu tanggapan emosional – perasaan marah, putus asa, pesimis, atau mudah terluka yang meningkat.
7. Agresi dan Permusuhan
Merasakan suatu gelombang kemarahan kepada orang lain, disertai dengan dorongan untuk mencelakai mereka, atau dengan keinginan untuk “memberi pelajaran”.
PENYESUAIN DIRI
Penyesuaian diri merupakan salah satu persyaratan penting bagi terciptanya kesehatan jiwa/mental individu. Banyak individu yang menderita dan tidak mampu mencapai kebahagiaan dalam hidupnya, karena ketidak-mampuannya dalam menyesuaikan diri, baik dengan kehidupan keluarga, sekolah, pekerjaan dan dalam masyarakat pada umumnya. Tidak jarang pula ditemui bahwa orang-orang mengalami stres dan depresi disebabkan oleh kegagalan mereka untuk melakukan penyesaian diri dengan kondisi yang penuh tekanan.
Pengertian
Pengertian penyesuaian diri pada awalnya berasal dari suatu pengertian yang didasarkan pada ilmu biologi yang di utarakan oleh Charles Darwin yang terkenal dengan teori evolusinya. Ia mengatakan: "Genetic changes can improve the ability of organisms to survive, reproduce, and, in animals, raise offspring, this process is called adaptation".(Microsoft Encarta Encyclopedia 2002).
Sesuai dengan pengertian tersebut, maka tingkah laku manusia dapat dipandang sebagai reaksi terhadap berbagai tuntutan dan tekanan lingkungan tempat ia hidup seperti cuaca dan berbagai unsur alami lainnya. Semua mahluk hidup secara alami dibekali kemampuan untuk menolong dirinya sendiri dengan cara menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan materi dan alam agar dapat bertahan hidup. Dalam istilah psikologi, penyesuaian (adaptation dalam istilah Biologi) disebut dengan istilah adjusment.
Adjustment itu sendiri merupakan suatu proses untuk mencari titik temu antara kondisi diri sendiri dan tuntutan lingkungan (Davidoff, 1991). Manusia dituntut untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial, kejiwaan dan lingkungan alam sekitarnya. Kehidupan itu sendiri secara alamiah juga mendorong manusia untuk terus-menerus menyesuaikan diri.
Berdasarkan uraian di atas dapat dikatakan bahwa penyesuaian diri merupakan suatu proses dinamis yang bertujuan untuk mengubah perilaku individu agar terjadi hubungan yang lebih sesuai antara diri individu dengan lingkungannya. Atas dasar pengertian tersebut dapat diberikan batasan bahwa kemampuan manusia sanggup untuk membuat hubungan-hubungan yang menyenangkan antara manusia dengan lingkungannya.
Aspek-aspek Penyesuaian Diri
Menurut Fatimah (2006) penyesuaian diri memiliki dua aspek, yaitu sebagai berikut:
1. Penyesuaian Pribadi
Penyesuaian pribadi adalah kemampuan individu untuk menerima dirinya sendiri sehingga tercapai hubungan yang harmonis antara dirinya dengan lingkungan sekitarnya. Ia menyadari sepenuhnya siapa dirinya sebenarnya, apa kelebihan dan kekurangannya dan mampu bertindak obyektif sesuai dengan kondisi dirinya tersebut. Keberhasilan penyesuaian pribadi ditandai dengan tidak adanya rasa benci, lari dari kenyataan atau tanggungjawab, dongkol. kecewa, atau tidak percaya pada kondisi dirinya. Kehidupan kejiwaannya ditandai dengan tidak adanya kegoncangan atau kecemasan yang menyertai rasa bersalah, rasa cemas, rasa tidak puas, rasa kurang dan keluhan terhadap nasib yang dialaminya.
Sebaliknya kegagalan penyesuaian pribadi ditandai dengan keguncangan emosi, kecemasan, ketidakpuasan dan keluhan terhadap nasib yang dialaminya, sebagai akibat adanya gap antara individu dengan tuntutan yang diharapkan oleh lingkungan. Gap inilah yang menjadi sumber terjadinya konflik yang kemudian terwujud dalam rasa takut dan kecemasan, sehingga untuk meredakannya individu harus melakukan penyesuaian diri.
2. Penyesuaian Sosial
Setiap iindividu hidup di dalam masyarakat. Di dalam masyarakat tersebut terdapat proses saling mempengaruhi satu sama lain silih berganti. Dari proses tersebut timbul suatu pola kebudayaan dan tingkah laku sesuai dengan sejumlah aturan, hukum, adat dan nilai-nilai yang mereka patuhi, demi untuk mencapai penyelesaian bagi persoalan-persoalan hidup sehari-hari. Dalam bidang ilmu psikologi sosial, proses ini dikenal dengan proses penyesuaian sosial. Penyesuaian sosial terjadi dalam lingkup hubungan sosial tempat individu hidup dan berinteraksi dengan orang lain. Hubungan-hubungan tersebut mencakup hubungan dengan masyarakat di sekitar tempat tinggalnya, keluarga, sekolah, teman atau masyarakat luas secara umum. Dalam hal ini individu dan masyarakat sebenarnya sama-sama memberikan dampak bagi komunitas. Individu menyerap berbagai informasi, budaya dan adat istiadat yang ada, sementara komunitas (masyarakat) diperkaya oleh eksistensi atau karya yang diberikan oleh sang individu.
Apa yang diserap atau dipelajari individu dalam poroses interaksi dengan masyarakat masih belum cukup untuk menyempurnakan penyesuaian sosial yang memungkinkan individu untuk mencapai penyesuaian pribadi dan sosial dengan cukup baik. Proses berikutnya yang harus dilakukan individu dalam penyesuaian sosial adalah kemauan untuk mematuhi norma-norma dan peraturan sosial kemasyarakatan. Setiap masyarakat biasanya memiliki aturan yang tersusun dengan sejumlah ketentuan dan norma atau nilai-nilai tertentu yang mengatur hubungan individu dengan kelompok. Dalam proses penyesuaian sosial individu mulai berkenalan dengan kaidah-kaidah dan peraturan-peraturan tersebut lalu mematuhinya sehingga menjadi bagian dari pembentukan jiwa sosial pada dirinya dan menjadi pola tingkah laku kelompok.
Kedua hal tersebut merupakan proses pertumbuhan kemampuan individu dalam rangka penyesuaian sosial untuk menahan dan mengendalikan diri. Pertumbuhan kemampuan ketika mengalami proses penyesuaian sosial, berfungsi seperti pengawas yang mengatur kehidupan sosial dan kejiwaan. Boleh jadi hal inilah yang dikatakan Freud sebagai hati nurani (super ego), yang berusaha mengendalikan kehidupan individu dari segi penerimaan dan kerelaannya terhadap beberapa pola perilaku yang disukai dan diterima oleh masyarakat, serta menolak dan menjauhi hal-hal yang tidak diterima oleh masyarakat.
Pembentukan Penyesuaian Diri
Penyesuaian diri yang baik, yang selalu ingin diraih setiap orang, tidak akan dapat tercapai, kecuali bila kehidupan orang tersebut benar-benar terhindar dari tekanan, kegoncangan dan ketegangan jiwa yang bermacam-macam, dan orang tersebut mampu untuk menghadapi kesukaran dengan cara objektif serta berpengaruh bagi kehidupannya, serta menikmati kehidupannya dengan stabil, tenang, merasa senang, tertarik untuk bekerja, dan berprestasi.
Pada dasarnya penyesuaian diri melibatkan individu dengan lingkungannya, pada penulisan ini beberapa lingkungan yang dianggap dapat menciptakan penyesuaian diri yang cukup sehat bagi remaja, diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Lingkungan Keluarga
Semua konflik dan tekanan yang ada dapat dihindarkan atau dipecahkan bila individu dibesarkan dalam keluarga dimana terdapat keamanan, cinta, respek, toleransi dan kehangatan. Dengan demikian penyesuaian diri akan menjadi lebih baik bila dalam keluarga individu merasakan bahwa kehidupannya berarti.
Rasa dekat dengan keluarga adalah salah satu kebutuhan pokok bagi perkembangan jiwa seorang individu. Dalam prakteknya banyak orangtua yang mengetahui hal ini namun mengabaikannya dengan alasan mengejar karir dan mencari penghasilan yang besar demi memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga dan menjamin masa depan anak-anak. Hal ini seringkali ditanggapi negatif oleh anak dengan merasa bahwa dirinya tidak disayangi, diremehkan bahkan dibenci. Bila hal tersebut terjadi berulang-ulang dalam jangka waktu yang cukup panjang (terutama pada masa kanak-kanak) maka akan sangat berpengaruh terhadap kemampuan individu dalam menyesuaikan diri di kemudian hari. Meskipun bagi remaja hal ini kurang berpengaruh, karena remaja sudah lebih matang tingkat pemahamannya, namun tidak menutup kemungkinan pada beberapa remaja kondisi tersebut akan membuat dirinya tertekan, cemas dan stres.
Berdasarkan kenyataan tersebut diatas maka pemenuhan kebutuhan anak akan rasa kekeluargaan harus diperhatikan. Orang tua harus terus berusaha untuk meningkatkan kualitas pengasuhan, pengawasan dan penjagaan pada anaknya; jangan semata-mata menyerahkannya pada pembantu. Jangan sampai semua urusan makan dan pakaian diserahkan pada orang lain karena hal demikian dapat membuat anak tidak memiliki rasa aman.
b. Lingkungan Teman Sebaya
Begitu pula dalam kehidupan pertemanan, pembentukan hubungan yang erat diantara kawan-kawan semakin penting pada masa remaja dibandingkan masa-masa lainnya. Suatu hal yang sulit bagi remaja menjauh dari temannya, individu mencurahkan kepada teman-temannya apa yang tersimpan di dalam hatinya, dari angan-angan, pemikiran dan perasaan. Ia mengungkapkan kepada mereka secara bebas tentang rencananya, cita-citanya dan dorongan-dorongannya. Dalam semua itu individu menemukan telinga yang mau mendengarkan apa yang dikatakannya dan hati yang terbuka untuk bersatu dengannya.
Dengan demikian pengertian yang diterima dari temanya akan membantu dirinya dalam penerimaan terhadap keadaan dirinya sendiri, ini sangat membantu diri individu dalam memahami pola-pola dan ciri-ciri yang menjadikan dirinya berbeda dari orang lain. Semakin mengerti ia akan dirinya maka individu akan semakin meningkat kebutuhannya untuk berusaha untuk menerima dirinya dan mengetahui kekuatan dan kelemahannya. Dengan demikian ia akan menemukan cara penyesuaian diri yang tepat sessuai dengan potensi yang dimilikinya.
c. Lingkungan Sekolah
Sekolah mempunyai tugas yang tidak hanya terbatas pada masalah pengetahuan dan informasi saja, akan tetapi juga mencakup tanggungjawab pendidikan secara luas. Demikian pula dengan guru, tugasnya tidak hanya mengajar, tetapi juga berperan sebagai pendidik yang menjadi pembentuk masa depan, ia adalah langkah pertama dalam pembentukan kehidupan yang menuntut individu untuk menyesuaikan dirinya dengan lingkungan.
Pendidikan modern menuntut guru atau pendidik untuk mengamati perkembangan individu dan mampu menyusun sistem pendidikan sesuai dengan perkembangan tersebut. Dalam pengertian ini berarti proses pendidikan merupakan penciptaan penyesuaian antara individu dengan nilai-nilai yang diharuskan oleh lingkungan menurut kepentingan perkembangan dan spiritual individu. Keberhasilan proses ini sangat bergantung pada cara kerja dan metode yang digunakan oleh pendidik dalam penyesuaian tersebut. Jadi disini peran guru sangat berperan penting dalam pembentukan kemampuan penyesuaian diri individu.
Pendidikan remaja hendaknya tidak didasarkan atas tekanan atau sejumlah bentuk kekerasan dan paksaan, karena pola pendidikan seperti itu hanya akan membawa kepada pertentangan antara orang dewasa dengan anak-anak sekolah. Jika para remaja merasa bahwa mereka disayangi dan diterima sebagai teman dalam proses pendidikan dan pengembasangan mereka, maka tidak akan ada kesempatan untuk terjadi pertentangan antar generasi.
PERTUMBUHAN PERSONAL
A.Pengertian
Monks, Knoers, dan Haditono (1984) menyatakan bahwa pekembangan sama dengan pertumbuhan. Sementara menurut Kasiram, pertumbuhan mengandung arti adanya perubahan dalam waktu atau fungsi - fungsi mental, sedangkan perkembangan makna adanya pemunculan hal baru.
Menurut kartono pertumbuhan adalah perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari proses pematangan fungsi - fungsi fisik yang berlangsung secara normal pada anak yang sehat, dalam waktu tertentu. Kartini Kartono mendefinisikan perkembangan sebagai perubahan psikofisis sebagai hasil dari proses pematangan fungsi - fungsi psikis dan fisis pada diri anak, yang ditunjang oleh faktor lingkungan dan proses belajar dalam waktu tertentu. Menurut J.P.Chaplin (1972) perkembangan adalah proses perubahan jasmani dan rohani manusia menuju arah yang lebih maju dan sempurna.
B. Fase dan Tugas Perkembangan
Fase dan tugas perkembangan adalah tahapan perkembangan anak dan target yang harus dicapai seorang anak.
1. Fase dan tugas perkembangan menurut Buhler
a. Fase pertama (0 - 1 tahun)
Masa untuk memahami berbagai objek lingkunagan dan melatih fungsi yang berhubungan dengan gerakan - gerakan anggota badan.
b. Fase kedua (2 - 4 tahun)
Masa pengenalan dunia objektif dengan penghayatan yang subjektif. Mulai ada pengenalan pada diri sendiri, dengan bantuan bahasa dan kemauan sendiri.
c. Fase ketiga (5 - 8 tahun)
Masa sosialisasi pada anak. Masa dimana anak mulai memasuki masyarakat dan belajar mengenal lingkungan sekitar secara objektif. Belajar mengenai arti prestasi, pekerjaan dan tugas - tugas kewajiban.
d. Fase keempat (9 - 11 tahun)
Padamasa ini anak mencapai objektifitas tertinggi. Memasuki masa menyelidik, mencoba dan bereksperimen karena rasa ingin tahunya yang besar. Pada akhir fase ini anak mulai berpikir tentang diri pribadi.
e. Fase kelima (14 - 19 tahun)
Merupakan masa tercapainya keseimbangan diantara sikap kedalam diri sendiri dengan sikap keluar. Setelah berusia 16 tahun anak mulai belajar melepaskan diri dari persoalan tentang diri sendiri dan mengarahkan minatnya pada kehidupan yang konkret. Kemudian terbentuklah penyesuaian antara pengarahan keluar dan kedalam. Diantara subjek dan objek mulai terbentuk synthese. Kemudian individu memasuki masa dewasa.
2. Fase dan tugas perkembangan menurut Hurlock
a. Prenatal ( sebelum lahir )
b. Masa Natal
Lahir - 14 hari ( infancy ). Merupakan fase penyesuaian terhadap lingkungan.
Masa Bayi ( 2 minggu - 2 tahun ). Bayi sebelumnya tidak berdaya kini mulai berdiri sendiri karena tubuhnya mulai kuat.
Masa Anak ( 2 - 10/11 tahun ). Masa seorang anak mulai menyesuaikan diri dengan lingkungan. Saat usia 6 tahun adalah masa penting proses sosialisasi.
c. Masa Remaja
Pra Remaja (mencari 11/12 - 13/14 tahun). Dikatakan sebagai fase negatif, dimana anak memperlihatkan tingkah laku yang cenderung negatif.
Remaja Awal (13/14 - 17 tahun). Masa dimana individu mencari identitas diri.
d. Dewasa
Dewasa Awal (21 - 40 tahun). Masa penyesuaian terhadap pola hidup baru dan harapan mengembangkan sifat - sifat, nilai - nilai yang serba baru.
Dewasa Menengah (40 - 60 tahun). Merupakan masa transisi, masa penyesuaian kembali. Masa mendekati masa dewasa.
3. Menurut Erikson
a. Masa Bayi (0 - 11/2 tahun). Masa sebuah kepercayaan harus ditanamkan bahwa dunia ini adalah tempat yang baik baginya.
b. Masa Toddler (11/2 - 3 tahun). Anak mulai memisahkan diri dari ibu dan lainnya kemudian menguasai diri, lingkungan, dan keteampilan dasar. Pengawasan orang tua sangat dibutuhkan untuk mengawasi perkembangan anak.
c. Awal Masa anak - anak (4 - 7 tahun). Anak mulai bersosialisaisi dan menyesuaikan diri dengan kelompok. Orang tua harus memberi contoh yang baik, karena anak akan mencontoh orang dewasa.
d. Akhir masa anak - anak (8 - 11 tahun). Masa berkelompok dan berorganisasi. Orang tua mengajarkan kerajinan, dan mengarahkannya pada hal yang positif.
e. Awal masa remaja (12 - 15 tahun). Masa transisi anak, anak mulai mencari kegiatan yang disenangi, orang tiua perlu mendukung asalkan bersifat positif.
f. Masa remaja sejati (16 - 18 tahun). Masa seorang anak menentukan tujuan hidupnya. Orang tua harus mendukung pilihannya demi kebaikan anak tersebut.
g. Awal masa dewasa (19 - 25 tahun). Seoranng anak mulai mandiri dengan apa yang telah dipilihnya. Bisa bekerja, menikah, atau kuliah.
h. Kedewasaan dan masa tua (25 tahun ke atas). Mulai tumbuh rasa kasih pada lawan jenis dan mulai memikirkan kebijakan-kebijakan dalam kehidupannya.
4. Menurut Havighurst
Menurutnya trugas perkembangan yaitu tugas-tugas yang harus dilakukan oleh seseorang dalam masa hidup tertentu sesuai dengan norma - norma masyarakat serta kebudayaan.
a. Periode bayi dan anak kecil
Anak mulai belajar berjalan, berbahasa, dan mengendalikan geraknya, mulai belajar aturan sesuai jenis kelamin dan berhubungan dengan orang lain. Anak mulai mengenal realita fisik, realita sosial, dan belajar apa yang benar dan apa yang salah.
b. Periode anak sekolah
Mengenal hidup sehat, belajar peranan jenis kelamin, dan belajar berkelompok. Anak mulai belajar membaca, menulis, dan berhitung. Belajar tentang kehidupan sehari-hari dan mengalami perkembangan moralitas.
c. Masa muda
Anak menerima keadaan jasmaninya. Menerima peranan jenis kelamin, belajar mandiri secara emosional, dan belajar bertanggungjawab sebagai bagian masyarakat. Perkembangan gambaran dunia yang sebenarnya dan persiapan mandiri secara ekonomi.
d. Masa dewasa muda
Belajar membentuk keluarga kemudian menemukan kelompok sosial. Menerima tanggungjawab warga negara dan mulai bekerja.
e. Periode usia tengah baya
Menolong anak menjadi dewasa dan menerima terhadap percobaan fisik dan fisiologik. Mencapai tanggungjawab sosial dan warga negara serta mencapai standar hidup ekonomis.
f. Masa dewasa lanjut
Melakukan penyesuaian terhadap menurunnya kekuatan fisik, menyesuaikan dengan kematian teman hidup dan menemukan relasi kelompok. Memenuhi kewajiban sosial dan warga negara. Penyesuaian dengan masa pensiun.
C. Prinsip Perkembangan
1. Perkembangan bersifat progresif, teratur, koheren, dan berkesinambungan. Jadi tahap pertama dan selanjutnya saling berkaitan
2. Perkembangan menuju proses diferensiasi dan integrasi. Maksudnya anak adalah suatu totalitas yang perkembangan aspek fisik-motorik, mental, emosi, dan social saling berkaitan.
3. Perkembangan dimulai dari respons yang sifatnya umum menuju yang sifatnya khusus.
4. Perkembangan berlangsung secara berantai.
- Teori equilibrium mengatakan bahwa individu selalu berusaha mengatasi kesulitannya. Motif utama dari hidup ini adalah melepaskan diri dari semua rintangan untuk mencapai kepuasan dan keseimbangan batin.
- Teori Disequilibrium, menurut teori ini anak justru tidak mencari keseimbangan, dan sengaja mencari ketidakseimbangan dengan mencoba macam-macam aktivitas sesuai potensinya.
5. Kecepatan perkembangan anak yang satu berbeda dengan yang lain, baik perkembangan organ atau aspek kejiwaannya.
6. Perkembangan manusia tidak tetap terkadang naik terkadang turun. Menurut ahli psikologi anak biasanya mengalami masa krisis yakni krisis pertama pad usia 2 - 3 tahun anak menjadi egois dan bertingkah laku mendahulukan kepentingan pribadi. Krisis kedua pada usia 14 - 17 tahun anak sering membantah orang tua dalam mencapai identitas diri.
7. Perkembangan mendorong anak mempertahankan diri dari hal-hal yang negatif.
8. Perkembangan mengalami masa peka yaitu masa saat fungsi jasmani dan rohani berkembang dengan cepat.
9. Perkembangan tidak hanya dipengaruhi faktor pembawaannya tetapi didukung oleh lingkungan. Faktor pembawaannya hanyalah bakat untuk memberikan kemungkinan berkembang saja.
D. Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan
1. Faktor heriditas
Perkembangan manusia ditentukan oleh pembawaannya sejak lahir baik dari keturunan orang tua, nenek moyang, atau karena memang ditakdirkan demikian.
2. Faktor lingkungan
Akan baik atau buruk seorang anak sangat dipengaruhi oleh pendidikan dan bakat pembawannya dapat ditutup dengan pendidikan.
E. Aliran Psikologi dan Implikasinya Dalam Pembelajaran
1. Aliran Nativisme
Berpendapat bahwa perkembangan manusia sangat ditentukan bakatnya sejak lahir sehingga pengalaman tak berpengaruh apa - apa. Jadi anak harus diberi kebebasan mencari apa yang mereka perlukan.
2. Aliran empirisme
Menurut aliran empirisme seorang anak bagaikan kertas putih ketika dilahirkan dan lingkungan adalah tintanya sehingga akan jadi seperti apa kertas itu tergantung tinta yang melukisnya, sehingga pendidikan harus diberikan dengan baik agar anak dapat menerapkannya dalam masyarakat.
3. Aliran konvergensi
Aliran konvergensi menganggap factor hriditas dan lingkungan sama pentingnya.Bakat tak berarti tanpa pendidikan dan sebaliknya pengalaman tanpa bakat tak kan mampu berkembang dengan baik. Pendidikan perlu diberikan dengan tetap memperhatikan bakat siswa. Pendidikan formal yang diikuti bias ditmbahkan extrakulikuler sesuai minat atau bakat.
4. Aliran ?Gestalt
Aliran gestalt menurutnya kesadaran dan jiwa manusia tidak mungkin dianalisis ke dalam elemen-elemen. Keseluruhan lebih dari penjumlahan unsur-unsurnya. Keseluruhan lebih dulu ditanggapi perbagiannya, dan bagian-bagian tersebut harus memperoleh makna keseluruhan. Siswa diajak mempelajari konsep - konsep mata pelajaran, lalu diberi penjelasan mengenai konsep tersebut.
5. Aliran behaviorisme
Mengatakan bahwa manusia lahir tak membawa apa-apa, manusia berkembang berdasarkan stimulus dari lingkungan dan seluruh perilaku manusia adalah hasil belajar. Pendidik harus menciptakan lingkungan belajar yang merangsang anak untuk belajar.
6. Aliran Konstruktivisme
Berpendapat bahwa dalam belajar anak itu aktif membangun pengetahuan tentang dunianya. Karena itu belajar dianggap sebagai proses yang bersifat personal dan aktif. Pendidik perlu memberikan rangsangan ( tugas ) agar siswa aktif mencari tahu untuk membangun pengetahuan pada dirinya.
7. Aliran humanism
Memandang bahwa belajar bukan sekedar pengembangan kualitas kognitifnya saja, tetapi melibatkan seluruh aspek yang ada. Dalam belajar mungkin perlu adanya variasi, seperti menggambar di taman atau halaman agar fisik dan sosialisasi dengan lingkunganpun tetap ada dalam belajar.
8. Aliran kognitif
Menurut aliran kognitif perkembangan kognitif ditentukan oleh manipulasi dan interaksi aktif anak dengan lingkungan. Pendidik harus menciptakan suasana lingkungan yang baik, menarik tetapi tetap membuat anak belajar atau berpikir.
Pertumbuhan adalah perubahan kearah yang semakin meningkat hingga batas tertentu dantidak mungkin menurun lagi. Sedangkan perkembangan adalah tahapan - tahapan perubahan yang berlangsung sepanjang usia. Perkembangan tidak ada batasnya dan kadang mengalami penurunan dan kadang berhenti.
Jadi perkembangan itu saling berkesinambungan dan berkaitan antara aspek yang satu dengan yang lainnya. Perkembangan bersifat umum menuju yang khusus dan berlangsung secara berantai. Terkadang anak mencari sendiri aktivitas sesuai potensinya dan tidak selalumencari keseimbangan. Kecepatan perkembangan seorang anak berbeda denngan yang lain dan berlangsung tidak tetap terkadang naik dan juga turun. Perkembangan mengalami masa peka dan mendorong anak menghindari hal-hal negative. Perkembangan tidak hanya ditentukan oleh bakat pembawaannya, tetapi juga bergantung pada lingkungannya sehingga anak perlu diberi pendidikan untuk perkembangannya.
Stress
DEFINISI STRESS
Menurut cooper (1994), Stess dapat didefinisikan sebagai tanggapan atau proses internal atau eksternal yang mencapai tingkat keteganagn fisik dan psikologis sampai pada batas atau melebihi batas kemampuan subyek. Stress sangat bersifat individual pada dasarnya bersifat merusak bila tidak ada keseimbangan antara daya tahan mental individu dengan bebena yang dirasakannya (Hager,1999) Bahkan, Stress dapat mempengaruhi fungsi alat alat tubuh (Hawari,2000)
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa stress adalah suatu ketegangan yang memberikan dampak negatif bagi manusia dari segi fisik maupun psikis yang merupakan akibat dari segala tuntutan yang harus diselesaikannya.
MACAM MACAM STRESS
- Eustress
Yaitu stress yang memiliki dampak positif karena mampu mendorong individu-individu untuk melakukan hal hal terbaik dalam masalahnya.
- Distress
Yaitu stress yang meiliki dampak negative karena memberikan energy menyakitkan atau merugikan bahkan dapat menyebabkan :
a. Depresi
Hal ini ditandai munculnya rasa sedih, kesepian, merasa tidak berarti, berpikir untuk mati, sulit tidur, sering menangis, dan merasa tidak mampu lagi untuk berdiri.
b. Kecemasan
Hal ini ditandai denagn sering merasa tegang , kawatir, mudah marah, dan sering merasa takut.
Selain itu, Weiten (1992) menjelaskan adanya empat jenis stress, antara lain :
- Frustasi
Kondisi dimana seorang merasa jalan yang ditempuh untuk meraih tujuan terhambat
- Konflik
Kondisi ini muncul ketika dua atau lbih perilaku saling berbenturan, dimana masing masing perilaku tersebut butuh untuk diekspresikan atau malah saling memberatkan.
- Perubahan
Kondisi yang dijumpai ternyata merupakan kondiisi yang tidak semestinya seta membutuhkan adanya suatu penyesuaian.
Kondisi dimana terdapat suatu harapan yang sangat besar terhadap seseorang untuk melakukan perilaku tertentu.
MODEL-MODEL STRESS
Beberapa model-model stress (vivien, 2009), yaitu :
Model stress berdasarkan stimulus
Hukum elastisitas. Jika train yang dihasilkan melampaui batas elastisistasnya maka kerusakan akan terjadi. Stress sebagai cirri-ciri dari stimulus lingkungan yang dalam beberapa hal dianggap menggagu atau merusak. Stressor eksternal kan menimbulkan reaaksi stress atau strain dalam diri individu. Stress sebagai sesuatu yang dipelajari
Model stress berdasarkan respon
Menurut Selye (1982), terdiri dari 3 tahapan yaitu :
Reaksi alarm : respon siaga (fight or flight. Peningkata cortical hormon, emosi dan ketegangan
Fase perlawanan (resistance) : Bila respon adaftif tidak mengurangi persepsi terhadap ancaman, ditandai hormon kortikal tetap tinggi. Usaha fisiologis untuk mengatasi stress mencapai kapasitas penuh.
Reaksi kelelahan : Perlawanan terhadap stress yang berkepanjangan mulai menurun, fungsi otak tergantung perubanhan metabolisme, sistem kekebalan tubuh menjadi kurang efisien dan penyakit yang serius mulai timbul saat kondisi menurun.
Model stress berdasarkan transaksional
Lingkungan dan individu terjadi proses penilaian kognitif (cognitive approsial)
Individu bervariasi dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannnya yaitu dengan melakukan coping terhadap berbagai tuntutan
TAHAPAN STRESS
Menurut patel (1996) menjelskan adanya berbagai jenis reaksi stress yang umumnya dialami manusia meliputi :


Too little stress
Dalam kondisi ini seseorang belum mengalami tantangan yang berat dalam memenuhi kebutuhan pribadinya. Seluruh kemampuan belum sampai dimanfaatkan, serta kurangnya stimulasi mengakibatkan munculnya kebosanan dan kurangnya makna dalm tujusn hidup.
Optimum stress
Seseorang mengalami kehidupan yang seimbang pada situasi “atas” maupun “bawah” akibat proses manajemen yang baik oleh dirinya.
Yoo much stress
Dalam kondisi ini seseorang merasa telah melakukan pekerjaan yang terlalu banyak setiap hari. Dia mengalami kelelahan fisik maupun emosional, serta tidak mampu mnyediakan waktu nuntuk beristirahat . Kondisi ini dialami secara terus meneerus tanpa memperoleh hasil yang diharapkan.
Breakdown stress
Ketika pada tahap too much stress individu tetap meneruskan usahanya pada kondisi yang statis, kondisis akan berkembang menjadi adanya kecenderungan neurotis yang kronis atau munculnya rasa sakit psikonomatis.
GEJALA GEJALAA STRESS
Gejala psikologis
 Kecemasan, ketegangan, kebingungan dan mudah tersinggung
 Perasaan frustasi
 Sensitif & Hyperreactivity
 Memendam perasaan, menarik diri, depresi
 Komunikasi yang tidak efektif
 Perasaan terkucil & terasing
 Kelelahan mental
 Kehilangan spontanitas dan kreativitas
 Menurunya rasa percaya diri

Gejala Fisiologis
 Menigkatnya denyut jantung, tekanan darah , dan kecendderungan mengalami penyakit
kardiovaskular
 Meningkatnyaa sekeresi dan hormone stress
 Gangguan gastrointestinal
 Meningkatnya frekuensi dari luka fisik dan kecelakaan.
 Kelelahan secra fisik
 Gangguan penapasan
 Gangguan pada kulit
 Sangguan tidur
 Rusaknya fungssi imun tubuh, termasuk resiko tinggi kemungkinan terkena kanker

Gejala perilaku
 Menurunyya prestasi
 Meningkatnya gangguan minuman keras dan obat obatan
 Perilaku makan yang tidak normal
 Meningkatnya agresitivitas, vamdalisme, dan kriminalitas
 Menurunya kualitas hubungan interpersonap dengan keluarga dan teman
 Kecenderungan untuk melakukan bunuh diri
PENYEBAB STRESS
Luthans (1992) menyebutkan bahwa penyebab stress (stressor) terdiri dari empat hal utama, yakni :
- Extra organizational stressor, yang terdiri dari perubahan social atau teknologi, keluarga, relokasi, keadaan ekonomi dan keuangan,ras dan kelas, dan keadaan komunitas atau yempat tinggal.
- Organizational stressor
- Group stressorIndividual stessor

Sedangkan cooper dan Davidson (1991) membagi penyebab stress menjadi dua :
a. Group stresssors
b. Individual stressor
2. General Adaptation Syndrom (GAS)
ada beberapa fase :
a. Fase Alarm ( Waspada)
Melibatkan pengerahan mekanisme pertahanan dari dalam tubuh dan pikiran untuk menghadapi stressor. Reaksi psikologis dan reaksi fisiologis.
Tanda-tanda fisik :
- Curah jantung meningkat
- Peredaran darah cepat
- Banyak organ tubuh terpengaruh
- Memengaruhi denyut nadi
- Daya tahan tubuh menurun
Fase alarm melibatkan pengerahan mekanisme pertahanan dari tubuh seperti :
- Pengaktifan hormon yang berakibat meningkatnya volume darah
- Akhirnya menyiapkan individu untuk bereaksi.
Hormon Hormon yang lain akan dilepas untuk meningkatkan kadar gula darah yang bertujuan untuk menyiapkan energi untuk keperluan adaptasi, teraktifasinya epineprin dan norepineprin mengakibatkan denyut jantung meningkat dan peningkatan aliran darah ke otot. Peningkatan ambilan O2 dan meningkatnya kewaspadaan mental.
Aktifitas hormonal yang luas ini menyiapkan individu untuk melakukan “ respons melawan atau menghindar “. Respon ini bisa berlangsung dari menit sampai jam. Bila stresor masih menetap maka individu akan masuk ke dalam fase resistensi.
b. Fase Resistance (Melawan)
Individu mencoba berbagai macam mekanisme penanggulangan psikologis dan pemecahan masalah serta mengatur strategi. Tubuh berusaha menyeimbangkan kondisi fisiologis sebelumnya kepada keadaan normal dan tubuh mencoba mengatasi faktor-faktor penyebab stress. Bila teratasi gejala stress menurun àtau normal tubuh kembali stabil, termasuk hormon, denyut jantung, tekanan darah. Individu tersebut berupaya beradaptasi terhadap stressor, jika ini berhasil tubuh akan memperbaiki sel – sel yang rusak. Bila gagal maka individu tersebut akan jatuh pada tahapa terakhir dari GAS.
c. Fase Exhaustion (Kelelahan)
Merupakan fase perpanjangan stress yang belum dapat tertanggulangi pada fase sebelumnya. Energi penyesuaian terkuras. Timbul gejala penyesuaian diri terhadap lingkungan seperti sakit kepala, gangguan mental, penyakit arteri koroner, dll. Bila usaha melawan tidak dapat lagi diusahakan, maka kelelahan dapat mengakibatkan kematian.
Tahap ini cadangan energi telah menipis atau habis, akibatnya tubuh tidak mampu lagi menghadapi stres. Ketidak mampuan tubuh untuk mepertahankan diri terhadap stressor inilah yang akan berdampak pada kematian individu tersebut.

Referensi :

Alisjahbana, A., Sidharta, M, Davidoff, M.A.W, 1991, Menuju kesejahteraan Jiwa, Jakarta; Penerbit, PT Gramedia
Fatimah, N. (2006). Psikologi perkembangan. Bandung : Pusaka Setia
Haditono (1984). Psikologi umum. Yogyakarta , Penerbit Andi
J.P.Chaplin (1972). ). Psikologi Perkembangan. Jakarta; Penerbit, PT Gramedia
cooper dan Davidson (1991) ; pengalih bahasa, Dominicus Rusdin-Jakarta; Bhuana Ilmu Populer, 2005.
Selye , 2006. Psikologi Remaja.Bandung: Pustaka Setia